PARADIGMA BARU PENGELOLAAN SAMPAH

Bagi Negara dengan jumlah penduduk cukup besar seperti Indonesia, sampah menjadi masalah yang cukup pelik. Tingkat pertumbuhan penduduk yang berbanding lurus dengan tingkat produksi sampah namun berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan, jelas menimbulkan sebuah permasalahan.  Jika setiap keluarga menghasilkan sampah sebanyak minimal 0,5 kg/hari, bisa dihitung, berapa jumlah sampah yang dihasilkan oleh Indonesia setiap harinya. Oleh karena itu, tepat kiranya jika pemerintah memandang permasalahan sampah sebagai permasalahan nasional yang memerlukan penanganan yang komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir. Melalui UU No. 18 tahun 2008, pemerintah berusaha mengubah paradigma dan metode pengelolaan sampah.

Di banyak Negara maju di dunia, sampah tidak lagi menjadi masalah serius. Hal tersebut disebabkan karena sampah bukanlah barang sisa yang tidak berguna, melainkan sumber daya yang bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomi. Jepang contohnya, dia bisa membuat conblock untuk jalanan di Jepang dari feses manusia. Jepang juga menjadikan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah sebagai tempat penghasil energy. Begitu pula dengan Jerman dan Swedia yang berhasil mendaur ulang air limbah rumah tangga menjadi air yang dapat digunakan kembali untuk berbagai keperluan selain memasak dan mandi. Semua itu berawal dari kesadaran masyarakat untuk berperilaku sehat dan sadar lingkungan. Masyarakat di berbagai belahan dunia telah terbiasa memiasahkan sampah sesuai dengan jenisnya. Hal tersebut yang harus kita galakkan di masyarakat saat ini untuk membiasakan diri memisahkan sampah sesuai dengan jenisnya : sampah organic, sampah kertas, sampah plastic, sampah kaca, dan sampah kaleng. Dengan pemisahan tersebut, maka pengelolaan dan pengolahan sampah menjadi lebih mudah.

Selain membiasakan diri untuk memisahkan sampah sesuai jenisnya, masyarakat juga perlu dibiasankan untuk bergaya hidup minim sampah. Sebagai contoh, untuk mengurangi sampah plastic kresek, biasakan membawa tas plastic sendiri saat belanja di pasar maupun di supermarket. Dewasa ini penggunaan plastic kresek telah menimbulkan masalah yang cukup serius. Oleh karena itu, kemanapun pergi, bawalah plastic kresek sendiri untuk membawa belanjaan maupun menampung sampah bila tidak menemukan tempat sampah. Contoh lain adalah mengurangi penggunaan pampers. Pampers mengandung bahan dari plastic yang  baru akan terdegradasi setelah 250 tahun. Saat ini telah ada terobosan berupa popok serap dan celana serap yang dapat dicuci dan dipakai kembali. Hal tersebut bisa menjadi pilihan ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita. Hal lain yang tak kalah penting adalah menghemat dalam menggunakan kertas dan tissue. Biasakan menggunakan sapu tangan daripada tissue. Penghematan tersebut akan mengurangi laju penggundulan hutan di Indonesia. Setiap harinya, hutan seluas 2x lapangan bola hilang dari Indonesia.

Sedangkan untuk pengelolaan sampah, jika semula berorientasi hilir, maka sekarang diubah menjadi berorientasi hulu. Dahulu, pengelolaan sampah memakai prinsip : kumpul – angkut – buang. Jadi masyarakat mengumpulkan sampah, kemudian diangkut tenaga kebersihan, dan selanjutnya di buang ke tempat pembuangan akhir. Di tempat pembuangan akhir inilah sampah diolah setelah dipisahkan sebelumnya. Namun, metode ini menimbulkan masalah baik lingkungan maupun social. Timbunan sampah di tempat pembuangan akhir berpotensi menimbulkan gas metan yang mengakibatkan efek rumah kaca dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Timbunan sampah tersebut juga merusak tanah dan air tanah serta menimbulkan berbagai penyakit. Agar timbunan tersebut terurai, dibutuhkan waktu yang lama dan biaya besar. Oleh karena itu, TPA kini bukanlah tempat pembuangan akhir melainkan tempat pemrosesan akhir. Artinya, sebelum dibuang ke TPA, sampah-sampah tersebut telah diproses terlebih dahulu.

Setiap rumah tangga kini diharapkan mampu mengolah sampahnya secara mandiri atau secara berkelompok di lingkungan RT masing-masing. Kegiatan pengolahan sampah dengan paradigm baru tersebut meliputi : pengelolaan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah dilakukan dengan kegiatan pengurangan dan penanganan sampah, sedangkan penanganan sampah meliputi pemilahan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir.  Kegiatan pengurangan sampah meliputi pembatasan, penggunaan kembali, dan pendauran ulang, atau yang lebih dikenal dengan Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).

Mulai saat ini, setiap keluarga diharapkan mampu memilah-milah sampahnya untuk kemudian diletakkan dalam wadah tersendiri. Oleh karena itu, setiap keluarga minimal memiliki empat (4) tempat sampah di halaman rumahnya. Setelah dipilah, sampah yang bisa diolah secara mandiri langsung diolah. Sebagai contoh, sampah organic yang berasal dari sisa makanan, sayuran, buah, dll dapat diolah menjadi pupuk kompos. Pembuatan pupuk kompos tidaklah sulit dan tidak memerlukan tempat yang luas. Untuk starter atau komposternya dapat membuat sendiri atau membeli di took-toko pertanian.

Sampah kertas, bisa dipilah-pilah lagi menjadi kertas yang masih dapat digunakan dan kertas yang sudah tidak dapat digunakan. Bila kertas masih dapat digunakan karena pada lembar sebaliknya masih kosong, maka kertas tersebut jangan dibuang, melainkan digunakan kembali. Sedangkan kertas yang sudah tidak dapat digunakan, misalnya kertas Koran, langsung dikumpulkan dengan rapi untuk kemudian dijual. Kertas-kertas tersebut akan diolah kembali oleh pabrik kertas. Atau, kita bisa mendaur ulang sendiri kertas-kertas tersebut. Proses daur ulang kertas skala kecil tidaklah sulit. Bagaimana denganik  sampah plastic? Sampah plastic setelah dipilah, langsung dicuci bersih dan dijemur. Proses pencucian tidak perlu menggunakan sabun/deterjen, melainkan dengan air biasa. Proses pencucian dilakukan untuk menghilangkan sampah organic yang menempel pada plastic-plastik tersebut. Setelah dicuci bersih, pilah-pilah sesuai jenisnya. Untuk plastic kresek, dapat kita gunakan kembali. Plastic-plastik kemasan (kemasan minuman, makanan, deterjen, pewangi pakaian, dll) dikumpulkan dan dapat kita jual pada perajin-perajin cinderamata dari aneka bungkus plastic. Plastic-plastik yang berwarna bening dan tidak akan kita gunakan lagi dapat dijual bersama botol-botol plastic maupun gelas plastic kepada pemulung. Sisa sampah yang belum kita olah, dapat kita buang ke tempat pemrosesan akhir.  Dengan demikian, beban TPA tidak akan berat dan setiap rumah tangga akan memperoleh nilai tambah dari segi ekonomi.

Pemerintah melalui Kementrian Lingkungan Hidup mencanang 5 tahun pertama sejak tahun 2008 sebagai tahun sosialisasi paradigm baru pengelolaan sampah kepada masyarakat. Pada tahun 2012 diharapkan setiap rumah tangga telah mampu mengelola dan mengolah sampahnya secara mandiri. Pada tahun tersebut, TPA sebagai Tempat Pembuangan Akhir sudah ditiadakan. Jika Swedia membutuhkan waktu hingga 30 tahun untuk membangun kesadaran masyarakatnya, diharapkan Indonesia tidak membutuhkan waktu terlampau lama. Lima tahun dirasa cukup oleh pemerintah untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, minimal secara kolektif dalam lingkup paling kecil, sudah terbentuk kelompok-kelompok pengolah sampah.

Menilik target yang begitu besar, diperlukan kerja serius dari pemerintah pusat untuk mensosialisasikan kepada pemerintah-pemerintah daerah kab/kota di seluruh Indonesia dan mensosialisasikannya pula kepada masyarakat. Selain itu, pemerintah juga harus menyiapkan perangkat-perangkat tempat pemrosesan sementara di berbagai titik dan memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai pengelolaan dan pengolahan sampah.

Kesadaran masyarakat dan keseriusan pemerintah dalam menyediakan perangkat dan fasilitas akan mendukung keberhasilan program ini.

Add a comment Februari 6, 2010
Kaitkata: , , , ,

PERUBAHAN IKLIM : ANCAMAN DAN TANTANGAN BAGI INDONESIA

Musim, sesuatu yang kini cukup sulit untuk diprediksi. Keluhan akan semakin sulitnya musim diprediksi telah sering disampaikan para petani dan nelayan. Hal tersebut disebabkan karena merekalah yang terkena dampak langsung dari berubahnya musim. Berubahnya siklus musim yang dialami Indonesia merupakan salah satu imbas dari perubahan iklim yang melanda bumi. Indonesia sendiri sebenarnya memiliki tiga jenis iklim, yaitu iklim musim, iklim tropis, dan iklim laut. Iklim musim sangat dipengaruhi oleh angin musiman yang berubah-ubah selama periode tertentu. Ada dua jenis angin musim yang bertiup di Indonesia, angin musim barat daya yang basah dan angin musim timur laut yang kering. Iklim tropis dialami Indonesia karena Indonesia terletak di daerah katulistiwa, sehingga mengalami iklim tropis yang panas dan hanya mempunyai dua musim. Iklim laut dimiliki Indonesia karena Indonesia merupakan Negara kepulauan dimana penguapan air laut menyebabkan udara lembab dan curah hujan tinggi.

Pertanian adalah salah satu sector yang sangat bergantung pada musim. Pertanian di Indonesia belum dikembangkan secara modern sehingga tingkat kebergantungan pada musim dan luas lahan masih sangat tinggi. Oleh karena itu, sector pertanian adalah sector yang sangat terpengaruh oleh dampak perubahan iklim yang saat ini terjadi secara global. Mereka tidak lagi mampu memperkirakan waktu tanam yang tepat. Tidak seperti dulu yang musimnya dapat diperkirakan dengan tepat.

Diperkirakan akan terjadi pengurangan produktifitas pertanian jika suhu bumi meningkat 1 – 2°Csehingga meningkatkan resiko terjadinya bencana kelaparan. Musim kemarau yang lebih panjang juga menyebabkan resiko gagal panen, kekurangan air bersih, dan kebakaran hutan. Hal tersebut menyebabkan Indonesia harus mengimpor beras, atau jika hal itu tidak dilakukan akan menyebabkan terjadinya bencana kelaparan.

Sector lain yang sangat terpengaruh adalah perikanan laut. Nelayan kini sangat kesulitan untuk menentukan waktu berlayar yang tepat karena musim yang tidak beraturan. Naiknya permukaan air laut akan merusak kehidupan pesisir karena rusaknya habitat laut dan rusaknya tambak-tambak ikan dan udang di Jawa, Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi (LAPAN, 2009). Kenaikan temperature menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan. Hal tersebut menyebabkan naiknya tinggi permukaan air laut yang merusak ekosistem hutan bakau dan zona pesisir.

Dalam kasus ini, nelayan dan petani adalah golongan yang harus menderita dan semakin berada pada garis kemiskinan dengan adanya perubahan iklim tersebut. Mereka tidak mampu meningkatkan taraf hidup mereka karena semakin beratnya beban mereka dalam mencari nafkah tanpa diikuti peningkatan dari sisi keilmuan. Tanpa bantuan dari pemerintah, mereka akan semakin terpinggirkan.

Sector lingkungan, ekosistem, dan ketersediaan air juga akan sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim. Diperkirakan pada pertengahan abad ini, ketersediaan air di daerah subpolar dan tropis basah akan meningkat 10-40%. Sedangkan di daerah subtropics dan tropis kering akan menurun 10-30% (LAPAN, 2009). Hal tersebut menyebabkan daerah-daerah yang saat ini sering mengalami kekeringan akan semakin sering mengalami kekeringan dan dalam durasi yang lebih panjang. Diperkirakan 20-30% spesies akan punah karena kenaikan suhu bumi. Meningkatnya jumlah karbondioksida di atmosfer dan meningkatnya keasaman air laut menyebabkan rusaknya ekosistem terumbu karang.

Hal yang sangat krusial yang harus diperhatikan saat ini adalah penataan ruang untuk berbagai kegiatan manusia, terutama pemukiman dan kegiatan ekonomi. Perubahan musim yang tidak menentu, meningkatnya curah hujan, berbagai kegiatan alih fungsi lahan, meningkatkan berbagai resiko bencana seperti banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, diperlukan penataan daerah pemukiman agar masyarakat terhindar dari resiko-resiko bencana tersebut. Penataan juga perlu dilakukan terhadap pembangunan-pembangunan kawasan industry agar jangan sampai merusak ekosistem dan tata lingkungan.

Kita semua tidak mungkin menghindar dari perubahan iklim yang terjadi saat ini. Yang harus kita lakukan adalah mengurangi sebesar mungkin resiko-resiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim tersebut. Pemerintah sebagai pemegang kebijkan mulai saat ini harus membuat rencana pembangunan berbasis lingkungan. Perlu segera dilakukan pemetaan daerah-daerah beresiko bencana. Setelah pemetaan dilakukan, hendaknya pemerintah segera memberikan penyuluhan dan pengetahuan kepada masyarakat tentang perubahan iklim, perubahan tata ruang, dan daerah-daerah yang dianjurkan bahkan dilarang untuk dihuni. Pemerintah hendaknya juga memberikan pengawasan yang ketat pada sector industry, terutama industry pertambangan yang cukup banyak memberikan andil dalam rusaknya ekosistem dan lingkungan. Pemberian ijin usaha pertambangan harus diperketat. Contoh baik telah dilakukan oleh Gubernur Kaltim yang akan memperketat ijin usaha pertambangan. Bahkan melarang para bupati maupun walikota di Kaltim untuk memberikan ijin usaha baru. Bagi yang melanggar akan diberikan sanksi tegas. Ketegasan sikap tersebut perlu dimiliki oleh jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Pemerintah juga hendaknya membantu petani dan nelayan untuk beralih ke pengelolaan pertanian dan perikanan yang maju dan modern. Bantuan tersebut tidak hanya bantuan dana, melainkan juga pendampingan yang simultan dan berkesinambungan, pengetahuan yang memadai mengenai model perikanan dan pertanian modern, dorongan untuk kembali ke pertanian modern dan pembuatan model pertanian yang integrative dengan peternakan dan perikanan untuk meminimalisir limbah pertanian. Mengingat limbah pertanian menyumbang cukup besar peningkatan karbondioksida di atmosfer.

Kita, sebagai individu dan anggota masyarakat juga dapat membantu untuk mengurangi laju pemanasan global dan perubahan iklim. Hal paling ringan adalah dengan mulai mengelola sampah yang kita hasilkan. Setiap kita hendaknya mulai memilah sampah sebelum dibuang ke TPA. Perlu diketahui, tidak terolahnya sampah dengan baik menjadikan TPA merupakan sumber gas metan (CH4), penyebab terjadinya efek rumah kaca dan pemanasan global. Oleh karena itu, sampah organic, plastic, kertas, kaca, dan B3 harus kita pilah. Sampah organic dari dapur dapat kita olah menjadi kompos. Kompos tersebut dapat kita gunakan untuk menyuburkan tanaman di halaman kita. Sampah plastic dan kertas dapat kita jual atau berikan ke pemulung agar didaur ulang. Sedangkan sampah B3 seperti batu batere dapat dibuang dengan diberi tanda khusus agar di TPA diolah secara tersendiri. Dengan pengolahan sampah secara mandiri tersebut, TPA bukan lagi tempat pembuangan akhir, melainkan tempat pengolahan akhir.

Hal lain yang dapat kita lakukan adalah mengurangi penggunaan tas plastic dengan menggunakan tas belanja sendiri ketika berbelanjan, mematikan kendaraan bermotor di lampu merah ketika lampu merah masih menyala di atas 20 detik. Hal tersebut dapat mengurangi konsumsi bensin hingga 0.05 mL. Sedangkan 1 L bensin akan menghasilkan 3 kg CO2. Kebersamaan kita, pemerintah dan masyarakat, dalam mengurangi laju perubahan iklim akan bermanfaat bagi kehidupan kita dan generasi yang akan datang.

Add a comment Februari 6, 2010

kuantum

Satuan terkecil dari sesuatu yang mungkin dimiliki. Awalnya digunakan untuk kuantum cahaya, yang sekarang disebut foton.

Add a comment Maret 28, 2009

neutron

Salah satu penyusun inti atom yang bermuatan netral. Memiliki massa sama dengan proton.  Massa = 1,674955 x 10-27.

Add a comment Maret 24, 2009

ATOM

Penyusun terkecil dari sebuah elemen kimia. Semua atom dari suatu elemen tertentu identik satu dengan lainnya. Setiap atom terdiri dari satu inti pusat, yang bermuatan positif, dikelilingi awan electron bermuatan negative. Jumlah electron di dalam awan sama dengan jumlah muatan positif di dalam inti sehingga keseluruhan atom bersifat netral. Atom merupakan bagian terkecil dari suatu materi  yang tidak dapat dipecah lagi.

Add a comment Maret 24, 2009

ELEKTRON

Partikel penyusun atom yang mengelilingi inti atom, memiliki muatan negative. Massa electron = 9,10953 x 10-31kg. diidentifikasi pertama kali oleh fisikawan J.J. Thompson. Electron memiliki dualism, yaitu sebagai partikel dan sebagai gelombang.

Add a comment Maret 24, 2009

Science is organized knowledge. Wisdom is organized life. (Imanuel Kant) Sumber : Koran Tempo edisi Minggu, 15 Maret 2009

Add a comment Maret 19, 2009

Membuat tehmu terasa lebih manis

Hmm…, sore ini the yang disajikan bunda lebih manis dan lebih nikmat.
“Bunda ga pake teh yang biasanya ya?” Tanya Ayah.
“Memangnya kenapa, Yah?”
“Ehmm…, rasanya lebih nikmat.”
“Iya, Bund, lebih nikmat dan lebih manis.” Ara nimbrung.
“Tadi Bunda coba cara baru menyeduh teh. Gula dan teh dimasukkan ketika air panas masih dididihkan di atas kompor yang menyala apinya, baru diangkat setelah gula larut. Bunda juga baru tahu kalau rasanya lebih nikmat. Ibu tahu dari baca tips di Koran.”

Apa kata Pak Blankon?
Gula tebu yang biasa kita konsumsi sehari-hari adalah jenis sukrosa. Sukrosa adalah karbohidrat golongan disakarida. Sukrosa mengandung dua molekul monosakarida, yaitu glukosa dan fruktosa. Pemanasan akan membuat sukrosa terhidrolisis menjadi glukosa dan fruktosa. Fruktosa memiliki kadar kemanisan lebih tinggi dari sukrosa.itulah mengapa gula yang dimasukkan ketika air masih dipanasakan akan menghasilkan rasa yang lebih manis pada minuman. Campuran 50% glukosa dan 50% fuktosa disebut gula invert. Gula invert biasa digunakan untuk membuat kembang gula, sirup, dan buah kaleng.
Sumber :
1. Koran Tempo
2. Buku Pelajaran Ilmu Kimia untuk SMU kelas 2, Michael Purba, Erlangga

Add a comment Maret 19, 2009

Tentang sebutir apel

Siang itu, sepulang sekolah, Ara mengambil sebutir apel dari atas meja. Setelah mengirisnya menjadi dua bagian, Ara mengupas salah satu bagian kemudian memakannya. Salah satu bagian dia tinggalkan di atas piring. Setelah selesai makan salah satu bagian apel tersebut, dia langsung menuju kamar tidurnya. Matanya sungguh mengantuk setelah semalam begadang menyiapkan ulangan hari ini. Namun, baru saja hendak menuju kamar, bunda sudah memanggilnya, “Ara, kalau makan apel, langsung dihabiskan, ya! Jangan disisakan seperti itu. Nanti kalau dimakan lagi vitaminnya sudah berkurang.”
“Tapi aku sudah kenyang, Bunda. Gimana kalau yang sebagian ini, Bunda yang makan?”
“baiklah, Bunda yang makan apel ini. Sekali lagi Bunda ingatkan, kalau makan apel jangan disisakan ya. Kalau tidak habis, langsung dibagi ke yang lain.”
“Ok, Bunda. Sekarang Ara tidur dulu ya, Bund….”

Apa kata Pak Blankon?
Apel mengandung vitamin C atau asam askorbat. Jika kita telah mengupas atau memotong apel lalu membiarkannya di udara terbuka, udara akan mengoksidasi asam askorbat dalam apel tersebut. Itulah mengapa warna apel kemudian berubah menjadi coklat.

Add a comment Maret 19, 2009

At first, people refuse to believe that a strange new thing can be done,then they begin to hope that it can be done,\ then they see that it can be done…, then it is done, and all the world wonders why it was not done centuries ago. (Frances Hodgson Burnet)

Add a comment Februari 25, 2009

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Mei 2012
S S R K J S M
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.